Sabtu, 11 Oktober 2014

Play Dough Kering? Ini Cara Mengembalikannya

Hai! Tahu mainan yang satu ini dong?


Mainan yang lebih sering disebut "Lilin Mainan", "Play Dough" atau "Play Doh" ini sahabat-an banget sama anak-anak. Dulu waktu kecil gue suka banget mainan itu, walaupun nanti tangan akan licin dan bau-nya agak-agak nggak enak, tapi tetap suka dan dimainin, hihi. Dan, ada satu hal lagi yang terkadang bikin kesel kalau si Play Dough ini keras dan nggak bisa dibentuk lagi.

Belum lama ini kami (kakak-kakaknya) membelikan Fay play dough di sini, dan karena mainnya setiap hari jadi cepat keras. Awalnya gue bingung mau diapain, masa dibuang, kan sayang. Akhirnya gue tanya-tanya sama gugel gimana caranya agar Play Dough bisa dibentuk lagi. Ada berbagai macam cara, tapi gue menemukan satu cara yang gampang banget. Gue sudah mencoba cara ini dan... berhasil, yeay! Alatnya cuma pakai tissue basah aja kok, gampang.


Udah kering, retak-retak.


Bungkus Play dough dengan tissue basah.

Kemudian tutup dengan rapat, tunggu sampai beberapa jam.
Dan... tadaaa! Seperti baru lagi.

Empuk banget!
Gampang, kan? Banget! Tapi kalau ada yang lumayan keras, harus dua kali, karena tengahnya masih keras. Jadi pas yang pertama selesai, dicampur-campur, terus dibungkus lagi pakai tissue basah. Cara ini cuma buat bikin empuk aja, ya. Noda-noda atau warna yang tercampur tidak akan hilang. Gue udah beberapa kali mencoba, dan selalu berhasil. Oke, selamat mencoba, ya! Semoga bermanfaat^^

Minggu, 05 Oktober 2014

Happy Birthday, Fay!

Fay


Ini namanya, Fay. Lengkapnya, Thufailah Aflah Humaira. Fay ini anak ke 4 dari 5 bersaudara, tanggal 1 Oktober kemarin baru saja menginjak usia 5 tahun, uwuwuwu, nggak kerasa udah 5 tahun. Beberapa hari yang lalu gue nanya sama Fay mau kado atau kue ulang tahun. Ternyata dia milih kado. Berhubung Fay punya 3 kakak (gue, Kalam, Cacay) yang baik hati *angkat kerah*, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk membeli kado H-2 ultah Fay. 

29 September 2014

Hari ini gue berniat buat nyari Chunky Bar 1kg. Setelah cari-cari akhirnya dapat info ada toko cokelat di daerah Cibubur, gue langsung ngechat toko itu via BBM. Ternyata... lagi kosong, ada lagi bulan Desember nanti, pfft. Dia nyaranin gue ke Kerpur, di Cibubur nggak ada Kerpur. Katanya, Kerpur Lebak Bulus aja. Mak, jauh banget. Gue tanya sama Umi, ternyata, Umi juga bilang biasanya Cuma ada di Kerpur, dulu pernah beli juga di situ. Yah, gagal deh Chungky Bar 1kg-nya.

Karena udah niat mau beliin kado, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk ke Gramedia Kids di Ciputra. Saat matahari lagi panas-panasnya, kita bertiga langsung ke Gramed. Setelah diskusi, akhirnya terpilih beberapa mainan yang akan dibungkus buat Fay. Diskusinya lumayan lama, karena kita mikir-mikir dulu. Pertama, harganya lumayan nekat. Kedua, kita tau itu Cuma mainan yang pasti bakalan rusak/ilang-ilangan. Ketiga, takut kena tegur orangtua Cuma beli mainan begitu. Hahaha, tapi kita balik lagi ke niat awal, “Mau bikin Fay seneng.” Ya, akhirnya dibeli juga deh mainan itu. Sebenarnya harga segitu sebanding sih sama kualitasnya, dan gue tahu itu bukan mainan asli Indonesia, jadi wajar kalau harganya sedikit bikin dompet kering. 

Setelah selesai transaksi, kita sekalian minta dibungkus biar nanti di rumah nggak perlu repot lagi. Dan, selesai. 
Tadaaaa! Bungkus kecil paling kanan itu yang isinya kosong, hihi.

30 September 2014

Hari ini kita udah gregetan banget ingin lihat bagaimana ekspresi Fay saat melihat kado itu.  H-1 ini Fay lagi semangat-semangatnya hafalin An-Naba. Ya, dia beberapa hari terakhir ini lagi ngafalin surat itu. Dan, kita bertiga bilang, “Pokoknya harus lancar dulu, baru dikasih kado.” 

Hari ini dia udah lumayan lancar, Cuma ada beberapa ayat yang masih lupa. Walaupun gitu, Fay keren. Gue hafal An-Naba, ya, baru usia 15 tahun ini. Dia 5 tahun, gue kalah 10 tahun. Bahkan, Zidna 3, 5 tahun (adiknya Fay) udah hafal beberapa ayat. Umur segitu, palingan gue baru hafal Balonku, duh, malu.

Oke, menjelang sore kita bertiga kepikiran buat ngerjain Fay. Jadi, kita mau bikin satu kotak yang isinya Cuma permen Yupi 1 biji. Nanti biar dia kecewa gitu, hahaha. Nggak apa-apa lah dijailin dulu sebelum dia seneng.

Malam hari sekitar pukul 7, Abi pulang dari kantor. Abi juga udah bawa kado buat Fay, karena Abi nunjukin kado itu pas malam itu juga. Akhirnya, kado yang niatnya dikasih 1 Oktober, kita berikan sekarang. Biar sekalian. Ah, terlalu cepat satu hari nggak apa-apa lah. Toh, Fay juga belum terlalu ngerti tanggal. Sesuai rencana, kita kasih kotak kecil dulu. Eh, pertama-tama dia buka kado dari Abi, dan dapat ini, yeay!

Wiiii! Ini dari Abi!
Setelah itu, baru deh kita kasih kotak kecil. Mukanya langsung berubah, “Yah, ini mah boongan!” kotaknya langsung dijauhin sama Fay, hahaha. Tiba-tiba... tadaaaa!

“Waaah! Beneran, nih?” 

Mukanya seneng banget, dia nggak percaya dikasih itu. Dia semangat banget buka kadonya, dan... ini isinya, hihi. Fay langsung pelukin kakak-kakaknya.

 
Hihihi


Bukanya semangat banget!
Wiii! Ini dari Kakak-kakaknya!

Happy Birthday, Fay! Semoga sehat terus, sayang sama Umi Abi, sayang juga sama kakak-kakak dan adiknya, An-Naba nya cepat lancar, pokoknya semua yang terbaik buat Fay. Mwah:*
Semenjak dia ultah kemarin, ada yang berubah, contohnya tadi pagi pas mau pergi..

“Fay, kok nggak duduk di depan?” Tanya gue heran ketika melihat dia pindah duduk dari depan ke belakang.

“Nggak lah. Kan udah ulang tahun, udah jadi kakak, nggak boleh dipangku lagi.”

Ada lagi..

“Fay, jilbabnya mau dibuka nggak?” Tanya Umi yang ngeliat Fay kepanasan

“Nggak, ah. Kan udah jadi kakak-kakak."

Tsah banget lah, hihihi. Dan, ini ada beberapa foto Fay dari lahir sampai sekarang :D


Menit Pertama

Menit Pertama
Fay at Borobudur 4th

Zid dan Fay

Ketawanya... mwah!
Lagi lucu-lucunya nih.. 8 bulan-an
Fay at Gunung

Hoam..


Fay dan Zid at Kotwis




Jumat, 03 Oktober 2014

Setelah Sekian Lama...

Hai *keluar dari semak-semak*

Setelah sekian lama akhirnya kembali. Mungkin ada yang bertanya seperti ini?



Beberapa bulan terakhir ini lagi stuck, dan benar-benar nggak tahu mau berbuat apa. Padahal banyak yang harus dikerjakan, tapi... begitulah. Ini semua terjadi setelah naskah ditolak penerbit. Aduh, nyes banget rasanya. Sakitnya itu nggak jauh beda sama dicuekin gebetan. Udah gitu ditolaknya tanpa dikasih satu pun catatan dan itu membuat gue semakin... Udah ah, nggak mau bahas ini.

Lagipula, seharusnya itu nggak jadi alasan buat terus nulis dan bikin lagi yang lebih berkualitas.
Yaudah, ini aja yang ingin gue sampaikan pada malam ini. InsyaAllah, setelah postingan ini segmen #TalkWith akan hadir 2 minggu lagi, tentunya dengan penulis keren dan akan ada yang beda di #TalkWith kali ini. Dadaaah, gut nite epribadeh :*

Kamis, 24 Juli 2014

#TalkWith Setiawan Chogah

Haloooo! Malam ini ada kabar gembira! Tapi, tenang ini bukan tentang kulit Manggis yang ada ekstraknya. Segmen #TalkWith kembali! Yeay! Setelah hampir 2 bulan segmen ini di biarkan begitu saja, sekarang #TalkWith kembali! YEAY!

Loh kok tayangnya malam Jumat? Biasanya malam Minggu...

Yap, untuk Minggu ini ada sedikit perubahan karena kondisi yang tidak memadai jika gue harus 
posting malam Minggu.

Ciyee, Ail ceritanya malam Minggu sibuk, ya? Udah taken? Ciyeee

Plis deh, taken sama siapaaa? Udahlah, pokoknya gitu aja. Cuma buat minggu ini aja kok.

Okay, malam ini #TalkWith kedatangan seorang cerpenis muda. Sudah mempunyai 10 buku yang dibuat bersama-sama dan 1 buku tunggal yang berisikan kumpulan cerpen. Buku perdanya hasil kumpulan cerpennya yang pernah dimuat di beberapa media. Kebetulan gue kenal sama penulis ini beberapa bulan yang lalu, saat itu gue mengundang dia ke acara yang didakan oleh gue dan teman-teman di sekolah menulis, ceritanya bisa dibaca disini. Cerpennya keren-keren, ada yang bikin meneteskan air mata sampai bikin ngakak guling-guling.

Oke, langsung aja ya kita simak perbicangan gue dengan Kak Chogah siang tadi, lengkapnya, Setiawan Chogah. Selamat Membacaaa!


Setiawan Chogah
***

Halo, Kak. Apa kabar? Makasih, ya, sudah mau mampir di #TalkWith

Hallo, Ailsa. Alhamdulillah, kabar sangat baik. Sama-sama, senang bisa ngobrol lagi.

Kemarin baru ngeluarin kumcer SMS Terakhir, ya? Ceritain dong, buku ini menceritakan apa saja..

Hehehe, iya alhamdulillah. Ini buku tunggal pertama saya. Sebelumnya buku keroyokan. SMS Terakhir adalah kumpulan cerpen pilihan dari 15 cerpen saya yang pernah dimuat media massa. Ceritanya tentang cinta secara universal, cinta kepada orangtua, sahabat, alam, kekasih dan cinta yang tidak pantas disebut cinta. Pokoknya everything is a about love gitulah...

Wiiih! Oh iya, buku keroyokan apa saja, Kak?

Alhamdulillah, ada 10 buku keroyokan, bikinnya rame-rame. Kebanyakan dari audisi naskah atau lomba kepenulisan.

Waaah, banyak banget! Di absen dong beberapa bukunya..

Judul buku keroyokan di antaranya:

Orang Bunian (2010)
E-Love Story (2010)
Para Guru Kehidupan (2011)
Gitalove 2 (Satu buku sama Mas Gol A Gong)
Seorang Nenek di Bawah Pohon Kasturi
A Cuplik ofisial Tea form Writer
Berjalan Menembus Batas; Man Jadda the Series.

Wah, asik nih pernah nulis bareng penulis-penulis keren. Cerpen sering majang dimana aja, Kak?

Paling sering Majalah Story dan Annida. Pernah juga di majalah Hai, tabloid Gaul, TOP Idol Indonesia dan koran-koran.

Di SMS Terakhir, yang aku perhatikan bahasanya dicampur dengan bahasa Minang. Apa alasannya Kak Chogah mencampurkan bahasa Minang ke dalam tulisan kakak?

Alasannya, karena saya orang Minang, hehe. Dalam menulis, saya menuliskan apa yang saya tahu. Dari kecil sudah sering dengan cerita legenda yang banyak bahasa Minangnya. Jadi kebawa deh dengan gaya bercerita di cerpen.

Oh iya, sejak kapan mulai berkecimpung di dunia kepenulisan?

Hehehe, ini kecelakaan sejarah. Saya kan kuliah di Teknik Industri, tapi malah nulis fiksi. Suka nulis sejak SMP, tapibaru berani kirim ke media pas SMA. Dan, saat kuliah jadi kecanduan. Akses ke media makin mudah dengan teknologi internet. Kerajinan nulis pas semester 2, sampai nilai kuliah anjlok, hahaha.

Wahaha. Tapi kecelakaan yang satu ini nggak bikin celaka kan. Sekarang lagi nyiapin naskah apa nih?

Lagi kelarin skripsi sama lagi nikmatin kerjaan.

Ngg... hahaha

Sekarang lagi nyusun biografi orang. Pengusaha gitulah, kebetulan kisahnya cukup inspiratif.

Wih, semoga cepat rampunya, ya!

Aamiin!

Balik lagi ke SMS Terakhir. Dibuku ini, semua cerpennya anti mainstream. Salah satunya yang aku suka ‘Kado Valentine Istimewa’, ini cerpen terkampret yang pernah aku baca, ngakak! Cara menulis anti mainstream ala Kak Chogah gimana, sih?

Hahaha, dalam menulis saya nggak pakai aturan. Suka-suka aja. Nanti juga akan menemukan gaya sendiri. Dengan gaya monolog gitu saya seperti bercerita sendiri. Seakan-akan ikut menemani si tokoh dalam kesehariannya.

Punya idola penulis nggak? Siapa dan kenapa?

Saya suka Lang Fang. Suka saja sama gaya berceritanya. Ceritanya juga sederhana, namun tetap apik dan meninggalkan kesan.

Selain aktif nulis, keseharian ngapain aja?

Sekarang kerjadi di Dompet Dhuafa Banten sebagai markom. Kerjaannya juga nulis. Kerja sekalian cari berkah, Aamiin.

Selama nulis, ada nggak hal yang paling berkesan?

Hhm.. Saya paling senang, semenjak nulis punya teman dimana-mana. Lalu, SMS Terakhir sudah sampai Malaysia. Saya malah belum pernah ke sana, hahaha.

Wah keren! Kasih pesan-pesan dong buat teman-teman di sini, siapa tahu ada yang sedang menyelesaikan naskah perdananya juga. Promosi bukunya juga boleeeh..

Pesannya:

Menulislah untuk mengabadikan sejarahmu, keluargamu, bangsamu. Membantah apa-apa yang orang tulis salah tentang kamu.

Buku ini cocok banget buat oleh-oleh mudik, untuk sanak saudara. Kalau katanya Majalah Story: Buku SMS Terakhir bisa dijadikan referensi buat yang ingin nulis di media lho.

Okay, makasih buat ngobrol serunya siang ini. Sukses terus buat nulisnya, ditunggu buku berikutnya, ya! Jangan lupa tetap main ke blog ini, ya. Hahaha

Oke, tengkyu, Ailsa. Sukses dan bermanfaat terus, ya! Maaf lahir dan batin..


Ah, iya. Sama, maaf juga, ya.

Minggu, 20 Juli 2014

Sunday Meeting with Gagas Media Group!

Penulis-penulis di Gagas Media Group dan (gue) Calon Penulis! (secepatnya kalau datang ke acara ini lagi, gue datang bukan sebagai blogger, tapi penulis di Gagas) foto disini

Hari ini untuk pertama kalinya gue akan mengikuti acara 'Sunday Meeting with Gagas Media Group'. Yap! Gue ikut acaranya ini berkat komunitas blogger yang baru gue ikutin beberapa bulan terakhir, Kancut Keblenger! Yeay, tengkyu KK yang udah bagi undangannya ke gue :D Yang gue tahu, acara ini dihadiri oleh penulis-penulis di Gagas Media Group dan para pembaca. 

Siang ini gue berangkat habis Dzuhur, sekitar pukul 12.30. Lokasi acara kali ini di Ragoon Cafe yang tepat berada di dalam SMKN 57. Agak susah nyarinya karena gue belum pernah ke situ. Nggak lama, gue nemu tempatnya dan langsung masuk nyari tempat duduk. Gue satu meja dengan 2 penulis, pas lagi kenalan gue nggak terlalu kedengeran suara mereka. 

Gue nggak terlalu ngeh siapa aja penulis yang hadir, tapi ada 2 penulis yang gue kenal. Ada Windry Ramadhina dan Sefryana Khairil. Kebetulan gue pernah ketemu dengan keduanya, gue sempat ketemu dengan Kak Windry di Leksika (karena waktu itu gue ngadain acara bareng doi ceritanya bisa dibaca disini). Dari belakang gue bisik-bisik manggil kak Windry, tapi sepertinaya suara gue kalah dengan suara mic :( Nah, kalau Kak Sefry, gue pernah ketemu dia karena waktu itu dia pernah sekali ngisi kelas cerpen di SMKI. 

Okay, acara pertama diisi oleh... lagi-lagi gue lupa siapa namanya. Oke, materinya yang pertama itu tentang eBook. Ya, sekalian promosi juga kalau buku-buku terbitan Gagas sudah ada yang bisa dibeli secara online di google play. 

Sambil menunggu Bena yang sore ini akan mengisi satu segmen lagi, Gagas Media Group mengenalkan para personilnya. Mulai dari Bukune, Panda Media, Gagas Media, dan Enter Media. Mulai dari editor sampai bagian distribusi, ada Michan, Rara, Syafial, Em dan masih banyak lagi. Ada juga personilnya yang tidak bisa hadir, Gita Romadhona. Eh, sebelumnya kita bagi-bagi doorprize dulu, sambil jawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan MC.

Kemudian, ada Mezty 7icon yang datang untuk mempromosikan novelnya yang akan di launching bulan Agustus nanti setelah lebaran. Novelnya berjudul 'Hai, Luka'. Di terbitkan di Enter Media. Nah, gue baru tahu juga nih. Ternyata, Enter Media itu khusus buku-buku yang menceritakan tentang dunia entertaiment, kehidupan artis-artis atau yang menulisnya dari kalangan tersebut.

Sekitar pukul 4.30, dari arah pintu terlihat Bena dan Vendry. Yap, Bena Kribo. Kali ini kita akan membahas bagaimana caranya mempromosikan buku kita lewat video. Gue pun sudah sejak lama kepikiran kalau nanti buku gue terbit akan bikin semacam teaser gitu. Ya, gitu deh. Cuma bahas itu saja sampai waktu berbuka. Setelah segmen Bena selesai, kita semua buka bersama. Pas lagi antri ambil takjil, ada Raditya Dika baru datang. 

Gue bergeser ke meja KK, ada kak Monik, kak Vina, kak Rikar, dan... entah siapa, lagi-lagi suaranya nggak terlalu jelas *ini bukan kuping gue yang bermasalah, bukaaaan*. Uwaaah, hari ini berkesan banget! Tengkyu lagi buat Kancut Keblenger yang udah bagi undangannya, hihi. Pertama kalinya juga kopdar dan bertemu dengan Kawancut Jabodetabek. Tengkyu lagi buat KK yang udah bagi undangannya, yeay \o/


Guenya udah pulang:( foto disini

Jumat, 11 Juli 2014

Main ke Elex Media Komputindo!

Hari ini (10.07.2014) gue akan menunjungi salah satu penerbit besar di Indonesia. Gue tidak sendiri, bareng sama anak-anak SMKI – Sekolah Menulis Kreatif Indonesia –. Siang ini gue berangkat dari rumah jam 10an. Karena belum tahu kantornya dimana, kita berangkat bareng sama Pak Dodi dari Cikeas. Sekitar pukul 11 gue sampai di Cikeas, disana udah ada Kak Jamilah. Setengah jam kemudian Fathiya datang. 

Tepat pukul 12.30, kita berangkat. 

Kira-kira 1,5 jam kemudian, kita udah sampai di tempat yang dituju. Masuk ke gang kanan-kiri semuanya gedung kompas. di kanan Kompas Gramedia, lalu di kiri Kompas TV, se grup ada disitu. Oh iya, hari ini gue ke penerbit Elex Media Komputindo. 

Pas masuk tasnya di periksa dulu dibuka satu-satu. Nggak bawa bom kok, Pak Satpam. Kita langsung ke lantai 2, disana tempatnya Elex. Jadi satu gedung itu ada beberapa penerbit, ada Elex, Grasindo, GPU dan lain sebagainya.

Disana kita ketemu sama Pak Vincent – lupa bagian apa, hehe –. Awalnya kita diruang tamu, tapi setelah itu diajak ke ruang meeting. Pertama-tama, kita disuruh memperkenalkan tema yang kita bawa dan ngasih contoh beberapa bab. Pagi tadi gue bawa 3 bab, tapi semuanya masih setengah-setengah. Ya, soalnya kalau non fiksi itu ngerjainnya nggak berurutan. Setelah itu, naskah kita di cocok-cocokin. Gue sama Kak Ade masuk di parenting, Fathiya religi, Pak Ari sejarah dan Kak Jamilah inspirasi. Lalu, kita diperkenalkan ke editor yang memegang di bagian tersebut. Agak kaget sih, ternyata naskah gue ini masuk ke bagian parenting.  

Sedang mengajukan naskah
Pak Vincent sedang menyimak rencana buku kita
Setelah itu, kita langsung di kenalkan ke editor yang dimaksudkan. Gue sama Kak Ade ketemu sama Bu Julia Suzana, dia editor di bagian parenting. Fathiya ketemu dua editor, pertama editor dibagian buku-buku religi Bu Linda Razad. Karena temanya remaja, Bu Linda nyambungin Fathiya ke editor yang buku-buku remaja, Kak Luky. Pak Ari ketemu editor buku-buku sejarah (kalau nggak salah) Pak Eko. Sayang sekali, editor yang dibagian Kak Jamilah rupanya sedang tidak ada disitu.

Kita ngobrol-ngobrol diruang tamu, tempatnya asyik, kanan-kirinya rak yang berisikan buku-buku (kebanyakan komik). Pertama-tama, kita memperkenalkan naskah. Kak Ade yang cerita duluan, gue nyimak sambil ngelirik Fathiya yang lagi ngobrol sama Bu Linda. Setelah Kak Ade selesai, barulah gue beraksi.

Ngapain aja?

Kita mengajukan naskah, nanti editornya nanya-nanya yang berhubungan sama calon buku kita. Minta pendapat apa lagi yang harus ditambah dan dikurangi. Lalu nanti pasar buku ini di khususkan untuk anak-anak atau orang dewasa. Kurang lebihnya begitu sih. Ngobrol sama editor itu enak, dapat masukan dan kritikan yang bisa membuat tulisan kita lebih bagus lagi. Rada grogi, walapun sebenarnya udah latihan ngobrol sama editor di kelasnya Mas Senda. Padahal gue udah nyusun apa aja yang mau diomongin, ada yang lupa-lupa sedikit.
 
Hasilnya? Masih digantung, belum ada jawaban. Iya, kan contoh naskahnya juga belum dibaca. Gue sama Kak Ade selesai duluan, contoh naskah yang kita bawa udah berpindah tangan ke Bu Lia. Buat selanjutnya, nanti kita diskusi via e-mail.

Gue ngelirik Fathiya udah ganti editor, keliatannya lagi asik ngobrol sama Kak Luky. Nggak lama mereka selesai, kita langsung ngeledekin Fathiya yang tampangnya lagi sumringah banget. 

“Kayaknya ada yang diterima nih, uhuk!”

“Hari Sabtu bukber ditraktir Fathiya, yes!”

Beberapa belas menit kemudian, kita semua selesai dan kembali ke kandangnya masing-masing. Di jalan, kita ditawarin lagi sama Pak Dodi,

"Mau ke Mizan? Berati harus bawa tema baru"

"Mauuuu"

Selanjutnya ke Mizan, yes!


Kanan ke Kiri: Pak Ari, gue, kak Ade, Fathiya, kak Jamilah dan Pak Vincent.
Copyright © 2014 Ailsaafh's Blog