Minggu, 20 Juli 2014

Sunday Meeting with Gagas Media Group!

Penulis-penulis di Gagas Media Group dan (gue) Calon Penulis! (secepatnya kalau datang ke acara ini lagi, gue datang bukan sebagai blogger, tapi penulis di Gagas) foto disini

Hari ini untuk pertama kalinya gue akan mengikuti acara 'Sunday Meeting with Gagas Media Group'. Yap! Gue ikut acaranya ini berkat komunitas blogger yang baru gue ikutin beberapa bulan terakhir, Kancut Keblenger! Yeay, tengkyu KK yang udah bagi undangannya ke gue :D Yang gue tahu, acara ini dihadiri oleh penulis-penulis di Gagas Media Group dan para pembaca. 

Siang ini gue berangkat habis Dzuhur, sekitar pukul 12.30. Lokasi acara kali ini di Ragoon Cafe yang tepat berada di dalam SMKN 57. Agak susah nyarinya karena gue belum pernah ke situ. Nggak lama, gue nemu tempatnya dan langsung masuk nyari tempat duduk. Gue satu meja dengan 2 penulis, pas lagi kenalan gue nggak terlalu kedengeran suara mereka. 

Gue nggak terlalu ngeh siapa aja penulis yang hadir, tapi ada 2 penulis yang gue kenal. Ada Windry Ramadhina dan Sefryana Khairil. Kebetulan gue pernah ketemu dengan keduanya, gue sempat ketemu dengan Kak Windry di Leksika (karena waktu itu gue ngadain acara bareng doi ceritanya bisa dibaca disini). Dari belakang gue bisik-bisik manggil kak Windry, tapi sepertinaya suara gue kalah dengan suara mic :( Nah, kalau Kak Sefry, gue pernah ketemu dia karena waktu itu dia pernah sekali ngisi kelas cerpen di SMKI. 

Okay, acara pertama diisi oleh... lagi-lagi gue lupa siapa namanya. Oke, materinya yang pertama itu tentang eBook. Ya, sekalian promosi juga kalau buku-buku terbitan Gagas sudah ada yang bisa dibeli secara online di google play. 

Sambil menunggu Bena yang sore ini akan mengisi satu segmen lagi, Gagas Media Group mengenalkan para personilnya. Mulai dari Bukune, Panda Media, Gagas Media, dan Enter Media. Mulai dari editor sampai bagian distribusi, ada Michan, Rara, Syafial, Em dan masih banyak lagi. Ada juga personilnya yang tidak bisa hadir, Gita Romadhona. Eh, sebelumnya kita bagi-bagi doorprize dulu, sambil jawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan MC.

Kemudian, ada Mezty 7icon yang datang untuk mempromosikan novelnya yang akan di launching bulan Agustus nanti setelah lebaran. Novelnya berjudul 'Hai, Luka'. Di terbitkan di Enter Media. Nah, gue baru tahu juga nih. Ternyata, Enter Media itu khusus buku-buku yang menceritakan tentang dunia entertaiment, kehidupan artis-artis atau yang menulisnya dari kalangan tersebut.

Sekitar pukul 4.30, dari arah pintu terlihat Bena dan Vendry. Yap, Bena Kribo. Kali ini kita akan membahas bagaimana caranya mempromosikan buku kita lewat video. Gue pun sudah sejak lama kepikiran kalau nanti buku gue terbit akan bikin semacam teaser gitu. Ya, gitu deh. Cuma bahas itu saja sampai waktu berbuka. Setelah segmen Bena selesai, kita semua buka bersama. Pas lagi antri ambil takjil, ada Raditya Dika baru datang. 

Gue bergeser ke meja KK, ada kak Monik, kak Vina, kak Rikar, dan... entah siapa, lagi-lagi suaranya nggak terlalu jelas *ini bukan kuping gue yang bermasalah, bukaaaan*. Uwaaah, hari ini berkesan banget! Tengkyu lagi buat Kancut Keblenger yang udah bagi undangannya, hihi. Pertama kalinya juga kopdar dan bertemu dengan Kawancut Jabodetabek. Tengkyu lagi buat KK yang udah bagi undangannya, yeay \o/


Guenya udah pulang:( foto disini

Jumat, 11 Juli 2014

Main ke Elex Media Komputindo!

Hari ini (10.07.2014) gue akan menunjungi salah satu penerbit besar di Indonesia. Gue tidak sendiri, bareng sama anak-anak SMKI – Sekolah Menulis Kreatif Indonesia –. Siang ini gue berangkat dari rumah jam 10an. Karena belum tahu kantornya dimana, kita berangkat bareng sama Pak Dodi dari Cikeas. Sekitar pukul 11 gue sampai di Cikeas, disana udah ada Kak Jamilah. Setengah jam kemudian Fathiya datang. 

Tepat pukul 12.30, kita berangkat. 

Kira-kira 1,5 jam kemudian, kita udah sampai di tempat yang dituju. Masuk ke gang kanan-kiri semuanya gedung kompas. di kanan Kompas Gramedia, lalu di kiri Kompas TV, se grup ada disitu. Oh iya, hari ini gue ke penerbit Elex Media Komputindo. 

Pas masuk tasnya di periksa dulu dibuka satu-satu. Nggak bawa bom kok, Pak Satpam. Kita langsung ke lantai 2, disana tempatnya Elex. Jadi satu gedung itu ada beberapa penerbit, ada Elex, Grasindo, GPU dan lain sebagainya.

Disana kita ketemu sama Pak Vincent – lupa bagian apa, hehe –. Awalnya kita diruang tamu, tapi setelah itu diajak ke ruang meeting. Pertama-tama, kita disuruh memperkenalkan tema yang kita bawa dan ngasih contoh beberapa bab. Pagi tadi gue bawa 3 bab, tapi semuanya masih setengah-setengah. Ya, soalnya kalau non fiksi itu ngerjainnya nggak berurutan. Setelah itu, naskah kita di cocok-cocokin. Gue sama Kak Ade masuk di parenting, Fathiya religi, Pak Ari sejarah dan Kak Jamilah inspirasi. Lalu, kita diperkenalkan ke editor yang memegang di bagian tersebut. Agak kaget sih, ternyata naskah gue ini masuk ke bagian parenting.  

Sedang mengajukan naskah
Pak Vincent sedang menyimak rencana buku kita
Setelah itu, kita langsung di kenalkan ke editor yang dimaksudkan. Gue sama Kak Ade ketemu sama Bu Julia Suzana, dia editor di bagian parenting. Fathiya ketemu dua editor, pertama editor dibagian buku-buku religi Bu Linda Razad. Karena temanya remaja, Bu Linda nyambungin Fathiya ke editor yang buku-buku remaja, Kak Luky. Pak Ari ketemu editor buku-buku sejarah (kalau nggak salah) Pak Eko. Sayang sekali, editor yang dibagian Kak Jamilah rupanya sedang tidak ada disitu.

Kita ngobrol-ngobrol diruang tamu, tempatnya asyik, kanan-kirinya rak yang berisikan buku-buku (kebanyakan komik). Pertama-tama, kita memperkenalkan naskah. Kak Ade yang cerita duluan, gue nyimak sambil ngelirik Fathiya yang lagi ngobrol sama Bu Linda. Setelah Kak Ade selesai, barulah gue beraksi.

Ngapain aja?

Kita mengajukan naskah, nanti editornya nanya-nanya yang berhubungan sama calon buku kita. Minta pendapat apa lagi yang harus ditambah dan dikurangi. Lalu nanti pasar buku ini di khususkan untuk anak-anak atau orang dewasa. Kurang lebihnya begitu sih. Ngobrol sama editor itu enak, dapat masukan dan kritikan yang bisa membuat tulisan kita lebih bagus lagi. Rada grogi, walapun sebenarnya udah latihan ngobrol sama editor di kelasnya Mas Senda. Padahal gue udah nyusun apa aja yang mau diomongin, ada yang lupa-lupa sedikit.
 
Hasilnya? Masih digantung, belum ada jawaban. Iya, kan contoh naskahnya juga belum dibaca. Gue sama Kak Ade selesai duluan, contoh naskah yang kita bawa udah berpindah tangan ke Bu Lia. Buat selanjutnya, nanti kita diskusi via e-mail.

Gue ngelirik Fathiya udah ganti editor, keliatannya lagi asik ngobrol sama Kak Luky. Nggak lama mereka selesai, kita langsung ngeledekin Fathiya yang tampangnya lagi sumringah banget. 

“Kayaknya ada yang diterima nih, uhuk!”

“Hari Sabtu bukber ditraktir Fathiya, yes!”

Beberapa belas menit kemudian, kita semua selesai dan kembali ke kandangnya masing-masing. Di jalan, kita ditawarin lagi sama Pak Dodi,

"Mau ke Mizan? Berati harus bawa tema baru"

"Mauuuu"

Selanjutnya ke Mizan, yes!


Kanan ke Kiri: Pak Ari, gue, kak Ade, Fathiya, kak Jamilah dan Pak Vincent.

Sabtu, 05 Juli 2014

Main ke Kinomedia Writer Academy!



Hari ini gue mau main ke basecampnya Kinomedia Writer Academy, seharusnya sih minggu lalu tapi baru terlaksana hari ini. Beberapa hari yang lalu, gue ngontak lagi adminnya Kino via facebook. Ternyata bisa, dan janjian habis Jumatan. Gue kesini karena dapat tugas dari guru di sekolah menulis. Sekitar pukul 11 siang, gue berangkat. Karena nggak tahu jalan, gue berangkat bareng keluarga, biasalah sekalian jalan-jalan.

Gue sampai di daerah Jl.Lenteng Agung itu sekitar jam 12.30. Karena janjian habis Jumatan, akhirnya berhenti dulu di pom bensin sekalian shalat Dzuhur. pas kira-kira udah jamnya orang Jumatan selesai, kita jalan lagi. Mobil melaju pelan, mencari gang yang bernama gang empang. Nggak lama, terlihat satu gang dengan tulisan yang dicari. Jalannya sempit banget, akhirnya mobil nunggu di depan gang. Gue jalan ke dalam gang sendiri, celingukan nyari tempatnya. Dalam gangnya lumayan lega, tau gitu tadi mobil sampai bawah aja. Tempatnya sepi banget, asik buat nulis.

5 menit gue keliling-keliling di gang itu, tapi nggak nemu tempatnya. Gue sempat nyasar kerumah orang, ngahaha. Lagi asik-asiknya celingungkan, tiba-tiba gue ngeliat cowok pakai kupluk abu lagi jalan sambil celingukan.

"Mau ke kino, ya?"

Dari jauh gue angguk-angguk, sambil jalan gue mikir lagi. Perasaan tadi adminya bilang kalau tempatnya itu tepat di sebelah kiri, kenapa belok kanan? Ternyata sodara-sodara... belok kanan dulu, baru kiri, asdfghjklzz--"

Setelah jalan sedikit, gue sampai di sebuah rumah kecil. Pas masuk kedalam, wuih, novel-novel tertata rapi dirak, berasa lagi di toko buku. Gue disitu nggak terlalu lama, cuma sekitar 30menitan. Ngobrolin tentang Kinomedia dan beberapa penerbit. Kinomedia itu agensi naskah, jadi kalau mengirim naskah kesini, nanti tim Kino yang ngirim ke penerbit-penerbit seperti Zettu, Rumah Oranye dan masih banyak lagi. Katanya, disini cuma nerima naskah novel. Setiap bulannya Kino menerima kurang lebih, 100 naskah. Disini juga ada kelas menulisnya, cuma sekarang lagi berhenti dulu -kalau nggak salah-. Ada beberapa novel dari kino yang diangkat menjadi film, sekarang juga ada beberapa yang lagi proses syuting.

Sebelum pulang, Kak Novanka nawarin novel gratis. Azek, dapat bacaaan baru. Gue dapat satu novel karya Ade Kurniawan, udah lama pengen beli novelnya dia. Tapi belum sempat, karena pas kesana, bukunya belum ada. Pas udah ada, isi dompet yang nggak ada.

Tugas selesai! Fyuh.

Gue bareng Kak Hengki

Gue bareng Kak Novanka

Minggu, 15 Juni 2014

Ini Untukmu, Abi...

Kota Wisata, 2005.

Dear, Abi.. Happy Fathers Day, ya! Ini memang bukan hari Abi yang sesungguhnya, tapi, semua orang merayakannya, masa kakak nggak? hehe

Bi, setiap anak pasti seneng banget kalau ngenalin Papanya ke teman-temannya, dan pasti, di depan teman-temannya mereka membanggakan sosok seorang Papa, tidak peduli seperti apa pekerjaannya, dsb. Begitupun dengan kakak. Kakak bangga punya Abi seperti ini, Abi bangga nggak punya anak kayak kakak? Ah, pasti nggak. Belum ada yang bisa di banggakan dari kakak, iya kan, Bi? Masih suka ngebantah, nyaut, dan masih suka bikin Abi dan Umi marah-marah, maaf ya.

Kadang, kakak suka kesel sama Abi yang masih sering ngelarang kakak buat pergi sendirian. Bahkan, kalau pergi aja, pasti Abi selalu nyuruh buat Acay atau Akal nemenin. Ya, kakak tahu alasannya apa, dan,  seharusnya juga kakak nggak perlu lagi nangis-nangis minta izin pergi, ngebantah, nyaut, dsb. Maaf, sekali lagi, maaf.

Kakak masih inget, dulu Abi bikinin perpustakaan kecil, dan perpustkaan itu dimakan ‘Perpustkaan Ailsa’, kakak seneng banget! Nggak akan pernah lupa.

Abi juga terkadang jadi tempat berlindung ketika Umi ngasih target hafalan qur’an yang menurut kita, susah banget. Umi nargetin 1 halaman per-hari, kalau Abi, biasanya ngasih toleransi ‘Minimal setengah halaman per-hari’. Tapi, ya, kalau udah kesel targetnya nggak kesampaian, toleransi itu juga nggak berlaku lagi, iya kan, Bi?

Abi itu keren, anak IT, photographer, bisa dibilang, cowok idaman banget! Hahaha. Iya, kalau punya Abi orang IT itu, anaknya nggak bakalan gaptek, dijamin deh, hahaha. Beneran deh, Bi. Cowok yang suka duduk di depan notebook/computer dan suka nenteng-nenteng kamera, itu keren!

Abi itu kuat. Iya, Abi pasti masih inget, dulu, waktu rumah kita masih di pegunungan, Abi kuat bolak balik buat ngantor ke Jakarta. Dan terkadang, rela bawa anaknya gantian untuk ikut turun gunung. Dulu belum pakai mobil, masih pakai motor. Jalanannya pun nggak lurus-lurus aja, naik turun ditambah dengan bebatuan yang sangat licin jika hujan.

Abi itu segalanya. Abi mau melakukan apapun untuk anaknya, asalkan, anaknya bisa sukses. Abi dari dulu udah membuka jalan untuk Kakak menjadi seorang penulis, Abi juga sudah memasukanku ke sekolah menulis sebanyak 2x. Abi juga akan memasukan Akal ke sekolah animasi. Sekarang, tinggal kita yang berusaha untuk bisa membalas apa yang udah Abi keluarkan selama ini, walaupun, kakak yakin, semuanya nggak akan pernah bisa terbalaskan, se sukses apapun nantinya.

Apalagi, ya? Ah, nggak kuat nulisnya, haha. Intinya, Kakak sayang banget sama Abi. Sayaaaaaaaang banget. Untuk yang kesekian kalinya, maafkan kakak belum bisa jadi anak yang bisa membanggakan. Belum bisa memberi contoh yang baik buat adik-adik. Dan, masih contoh buruk yang kakak berikan. Maaf. Di usia yang ke 16 tahun ini, kakak masih begini-begini aja. Kakak janji akan merubahnya. Kakak juga nggak mau selamanya begini, kakak mau buat Abi dan Umi bangga. Dan, biar Abi bisa membuktikan, ‘Ini loh, anak yang tidak sekolah bisa sukses’.

Semua yang sudah Abi lakukan untuk kakak selama ini, nggak akan sia-sia. Kakak akan membuktikannya, janji! Kakak janji!

Salam,

Kakak

Kuda-kudaan. Rumah, 2005.
Pangandaran, 2014.


Pangandaran, 2014.
Mekarsari, 2007.


Ragunan, 2007.






Puncak, 2005.






Sabtu, 14 Juni 2014

#TalkWith Bambang Trim

Selamat Siang! Tau dong, hari ini waktunya apa? Yap! #TalkWith doooong! Yeay! Hari ini blog gue kedatangan seorang penulis yang sudah bergulat di dunia kepenulisan sejak tahun 1995 – sekarang. Berati sudah 18 tahun! Wow!

Kalian tahu nggak, kalau menulis itu nggak hanya, nulis-nerbitin dan udah gitu aja. Sebernarnya, menulis bisa dijadikan bisnis. Hari gini apa sih yang ngga bisa jadi uang? Numpang pipis aja bayar.
Beberapa waktu yang lalu, gue baru dapat buku ‘Writerpreneur’ dari Pak Dodi, guru di sekolah menulis. Gue suka isi bukunya, maka dari itu, di #TalkWith kali ini gue mengundang penulis buku itu, Bambang Trim! Oke deh, langsung aja simak hasil ngobrol-ngobrol bareng Om Bambang via Whatsapp beberapa hari yang lalu.


Writerpreneur by Bambang Trim

Bambang Trim
 ---

Halo, Om Bambang, terimakasih ya, sudah bersedia meramaikan blogku :D Kebanyakan orang, tahu kalau menulis, ya, cuma nulis, nerbitin dan selesai. Writerpreneur itu apa sih?

Writerpreneur itu orang yang menjadikan tulisan sebagai produk bisnis, termasuk menjual jasa penulisan. Mengapa? Karena tidak ada satu pun di dunia ini, yang bisa luput dari tulis-menulis.

Di buku ‘Writerpreneur’ ada yang namanya Ghostwriter dan Co-writer, bisa dijelasin sedikit nggak, apa itu Ghost dan co writer?

Ghostwriter itu membantu orang yang punya ide untuk menuliskannya. Cuma, ghostwriter itu biasanya untuk karya non-fiksi dan faksi (biografi/autobiografi)..

Co-writer itu penulis pendamping. Sama dengan ghostwriter, hanya saja nama penulisnya tidak dimuat. Kalau ghostwriter sesuai kesepakatan, namanya tidak dimuat.

Om, ide ada disekitar kita, tapi, terkadang suka susah untuk mengembangkannya. Gimana caranya biar ide itu bisa berkembang dan ngga mentok?

Cara mengembangkan bisa dengan mendaftar hal-hal yang disukai dan hal-hal yang tidak disukai. Lalu, sebutkan, kenapa kamu menyukainya atau, kenapa kamu tidak menyukainya. Ini salah satunya.
Intinya, harus sering latihan. Tuliskan apa yang terpikirkan pertama kali.

Menurut Om Bambang, menulis itu ibaratkan apa sih?                                                                             

Menulis itu bukan bakat, karena dapat dilatihkan. Menulis akan sangat membantu hidup seseorang, terutama dalam pekerjaannya. Orang bisa nulis, akan selalu dicari.

Melihat dunia kepenulisan yang dulu dan sekarang, banyak kemajuan nggak?

Jelas banyak kemajuan, karena orang lebih mudah untuk menulis dan teknologi semakin canggih.

Penulis favorit Om Bambang siapa? Kenapa?

Salah satunya, Om Wendo alias Arswendo Atmowiloto. Karena, Om Wendo itu penulis serba bisa.

Dulu, diawal-awal menulis, nerbitin buku apa?

Om nulis di media dulu, seperti artikel. Terus, nulis buku pelajaran SMP dan SMA bahasa Indonesia. Tahun 1994, satu buku dapat 1,5 juta, seneng banget. Buahnya, tahun 1998, buku Om bisa lolos penilaian bamk dunia dan bukunya dibeli proyek pemerintahan. Om dapat 50 jutaan.

Rata-rata, buku yang pernah Om tulis jenis apa? Dan, sampai sekarang sudah ada judul buku yang pernah ditulis?

Semua sudah, nonfiksi, faksi dan fiksi, terutama cerita anak. Sekarang sudah nulis lebih 150 judul buku.

Om kan juga editor nih, rata-rata, editor suka sama penulis baru yang seperti apa sih? Mulai dari cara ngasih naskah, presentasi naskah, dsb.

Penulis baru yang rendah hati dan menyodorkan naskah dengan ide segar. Naskah diserahkan dengan softcopy dan presentasi yang singkat. Om udah kasih contohnya dibuku The Art of Stimulating Idea.

Sekarang, sedang menyiapkan naskah apa, Om?

Lagi nulis naskah 101 Solusi Editing dan beberapa naskah pesanan.

Kedepannya, apa harapan Om untuk dunia kepenulisan?

Harapannya, buat sekolah penulisan yang mapan dan membentuk asosiasi penulis Indonesia.

Tips sukses jadi seorang writerpreneur itu apa sih, Om?
Sukses jadi writerpreneur jalannya, mengusai menulis, mengedit, desain dan bisnis. Buka blog Om yang ini ya, http://manistebu.wordpress.com.
Terakhir nih, Om. Kasih pesan singkat dong, buat mereka yang baca ini, siapa tahu, baru ada yang memulai menulis.

Menulis bisa membuat kamu lebih hebat, siapapun kamu, kami bisa berlatih dan dilatih.

Wah, makasih ya, Om. Sudah mau mampir disini dan berbagi cerita, sukses terus. Ditunggu buku selanjutnya, ya!
---
#TalkWith kali ini sedikit, ya? Maafkan aku:( Kali ini gue kurang maksimal membuat postingan ini, maaf mengecewakan kalian:( Minggu depan, nggak akan se-sedikit ini lagi deh!
Kalau masih ada yang penasaran dan belum puas dengan #TalkWith kali ini, kalian bisa mengunjungi blognya Om Bambang http://manistebu.wordpress.com disana banyak postingan tentang menulis dan penerbitan.
Kalau ada yang mau memberikan, kritik dan saran, bisa langsung komentar disini atau email ke ailsafthr@gmail.com sangat di tunggu kritik dan saran dari kalian semua :))

Sabtu, 31 Mei 2014

#TalkWith GWP Badut Oyen


Selamat Malam! Akhirnyaaaa... setelah berusaha enusekitar 2 jam untuk mendapatkan sinyal, bisa posting! Yeay! Gue udah berpikir bahwa , malam ini bakalan telat update, ternyata nggak, fyuh. Tahu dong sekarang saatnya posting apa? #TalkWith! Kali ini kita kedatangan penulis-penulis yang baru saja melahirkan karya tebarunya.


Penulis-penulis? Berati nggak Cuma 1 dong?

Yap! Tepat sekali. Mereka adalah, kak Ratih, kak Kiky dan kak Marisa.  Dan, mereka baru mengeluarkan novel dengan judul Badut Oyen. Jadi, satu novel dikerjakan 3 orang. Kebayang nggak sih nulis novel estafet? Kalau yang ada dipikiran gue, ‘Gimana caranya?’. Ya, secara kan setiap orang gaya nulis itu berbeda, apa bisa disatukan? Oh iya, mereka bertiga ini dari Gramedia Writing Project, tahu kan? Yang suka nulis dan ikutan lomba, pasti tahu.
Novel ini bercerita tentang seorang badut bernama Oyen yang tewas gantung diri lengkap dengan kostum badutnya. Tidak ada yang menyangka bahwa Oyen akan melakukan hal tersebut. Beberapa hari setelah kematian Oyen, ada hal aneh terjadi di kampung, mulai dari penampakan hantu badut, dan ditemukannya warga tewas dalam kondisi yang tidak wajar. Warga menyimpulkan, bahwa Oyen meminta tumbal.

Lalu, ada apa dengan Oyen? Bagaimana ia bisa tewas dengan cara seperti itu? Apa Oyen bunuh diri? Atau, ada yang sengaja membunuh Oyen? Tapi, siapa?

Penasaran? Beli gih bukunya, terus baca sampai selesai, biar nggak penasaran, hahaha :p




Covernya lucu, badutnya bawa palu berdarah.
Gue juga baru beberapa hari yang lalu selesai baca novel ini, Gue speechless pas selesai baca novel ini, wow banget. Cuma bisa bilang 'Gila, ternyata akhirnya begini.'.Novel ini keren banget! Alur cerita, gaya nulis dsb. Endingnya nggak gampang ditebak. Pokoknya, kalian harus baca!
Oke, mau tahu keseruan gue ngobrol bareng penulis-penulis Badut Oyen? Mari dilanjut!
 
 


Dwi Ratih Ramadhany
 
Rizky Novianti


Marisa Jaya
---
Halo semuanya! Sebelumnya, makasih ya, sudah mau aku ajak ngobrol disini, hehe. Karena aku suka banget sama Badut Oyen, mau tanya-tanya sedikit nih tentang novel ini. Kok bisa sih nulis 1 novel barengan?

Kiky: Dari ajang GWP, Gramedia Writing Project. Awalnya, gramedia bikin lomba nulis. Terus, dari sekian banyak tulisan yag masuk Cuma 20 finalis yang beruntung. Dan, bis aikutan workshop yang diadakan gramedia dan Mbak Clara Ng.
Nah setelah kepilih 20 peserta, kita disaring lagi. Kita dibagi beberapa grup dan disuruh nulis estafet. Tiap grup dapat secarik kertas kecil, dengan isi penggalan cerita dan kita disuruh mengembangkan cerita tersebut.

Setiap grup ada 3 orang, kebetulan Aku, Marisa dan Ratih se-grup. Tujuan latihan itu supaya kita bisa nyamain ide, pikiran dan gaya nulis.

Badut Oyen sendiri murni ide Mbak Clara.


Saat aku baca Badut Oyen itu, nggak kerasa kalau novel ini ditulis 3 orang. Itu gimana caranya?

Marisa: Kalau soal Badut Oyen yang nggak kerasa 3 orang, thanks banget Kak Asty editor kita yang rela begadang demi maksimalnya Badut Oyen.

Ratih: Nyamain tulisan? Awalya nggak sama, tapi, lama kelamaan setelah halaman demi halaman terlewati, akhirnya bisa saing menyesuaikan. Yeaaay, Kak Asty idolaaa. Editor super sabar!
Selama nulis Badut Oyen ini ada kendalanya nggak?

Marisa: Kendala, kalau dia aku. Ya itu, nyatuin gaya nulis yang beda. Terus, waktu. Kita juga harus konsisten nulis setiap harinya. Jadi, kadang waktunya keteteran karena kuliah, dsb.


Ratih: Aku Idem sama Marisa. Kalo aku, selain itu, mungkin membiasakan diri nulis novel. Karena, nafas novel lebih panjang daripada cerpan.

Kiky: Kendala di aku, jaringan internet. Karena kita diskusi via WA. Selebihnya, sama kayak Marisa.

Marisa: Pokoknya diantara kita bertiga yang paling disiplin soal nulis, Mbak Kiki, hehe.
 
Kiky: Ah, masa sih..

Ratih: Iya tuh, yang paling on time kak Kiki.
 

Temanku, Fathiya. Dia suka juga sama novel ini. Dia bilang, novelnya seru! Dia juga nitip pertanyaan, Badut Oyen ini karya keberapa?

Marisa: Kalau aku, ini novel perdana, hehe. Sebelumnya suka nulis fanfiction atau disimpan aja di dalam laptop.

Ratih: Kalau aku, ini novel pertama. Biasanya aku suka nulis cerpen.

Cerpen sudah pernah ada yang dibukukan atau udah sering majang di majalah-majalah?

Ratih: Cerpenku Cuma masuk di beberapa antologi aja sih. Yang dimuat dikoran juga Cuma 1.

Kiky: Aku ada beberapa antologi cerpen dan puisi. Yang dikoran Cuma puisi-puisi, cerpen belum pernah.


Wow. Kakak-kakak disini sudah berapa lama terjun ke dunia kepenulisan?

Ratih: Aku nulis baru 2012 akhir

Marisa: Kalo suka nulis dari pertama bisa nyusun kalimat yang padu, udah suka buat cerita.

Kiky: Aku sudah lama. Tapi, baru benar-benar nekunin sejak SMA
 
Sekarang lagi nyiapin naskah baru nggak nih?

Marisa: Aku sih… hahaha. Ratih dan Mbak Kiki tuh, pasti lagi nyiapin naskah #bocoran

Ratih: Marisa jugaaa… Kami lagi menyiapkan naskah solo, doakan ya!

Kiky: Marisa tuh #bocorin balik

Hasik deh! Ditunggu karya terbarunya Kak Marisa, Kak Kiki dan Kak Ratih! Aku juga lagi nyiapin naskah perdana nih, doain juga ya! Hihihi

Ratih: Yeaaay! Semangat nulis ya, Ailsa!
Marisa: Mantaaap! Wah Ailsa, genre apa?

Kiky: Mantap.. cemungud!! Hahaha

Ailsa: Genre teenlit. Tapi, bukan teenlit yang menye-menye gitu. Pokoknya, beda deh dari yang lain, huahaha. *loh kok, jadi ngomongin aku ya haha*

Menurut kakak-kakak disini, menulis itu ibaratkan apa sih?

Kiky: Menulis itu ibarat bicara. Kalau nggak ngomong seharian, gimana rasanya? :p

Ratih: Bagiku, menulis ibarat memahat kayu. Butuh ketekunan.

Marisa: Menurut gue, nulis itu ibaratkan, lompat ke dimensi yang beda. Dunia yang diciptakan sendiri.

Kalau lagi stuck atau writers block biasanya ngapain? Punya sesuatu yang unikkah?

Kiky: Nggak unik sih, biasa aja. Menggambar, dengerin music, nonton. Yang paling sering sih, menilik kebelakang, kayak ngumpulin denda gitu, supaya emosi dan semangatnya kembali dapat.

Siapa sih penulis yang menginspirasi kakak-kakak disini?

Marisa: Alberthine Endah, Agnes Jessica, Esti Kinasih dan Linda Howard

Ratih: Intan Paramadhita, Ayu Utami, Seno Gumira Ajidarma dan Eka Kurniawan.

Kiky: Wiwien Winarto

Disini kalian lebih banyak nulis cerpen, gimana sih caranya nulis cerpen biar nggak bertele-tele dan pendek tapi greget

Ratih: Biar nggak bertele-tele, bisa mengunakan deskripsi tokoh, deskripsi suasana, atau deskripsi gerak sesuai kebutuhan. Biasanya, seperlunya aja biar seimbang dan nggak numpuk satu paragraph.

Pernah nggak sih di tolak naskahnya sama penerbit?

Ratih: Aku belum pernah ngirim ke penerbit. Kalau ditolah majalah/koran, pernah beberapa kali.

Terakhir nih, kasih pesan-pesan dong buat mereka yang habis baca ini. Biasanya, kata-kata dari penulis yang sudah menghasilkan buku, suka jadi motivasi buat kita-kita yang belum menerbitkan buku.

Kiky: Nulis itu nggak boleh nunggu mood. Dijadiin kayak kewajiban aja. Misalnya, setiap hari harus ngirim 7 halaman. Ya, tiap hari harus nyetor ga boleh nggak, apapun alasannya 
Masalah penerbit, setelah tulisan kita kelar, baru kita bisa cocokin ke penerbit mana.

Ratih: Jadikan menulis itu sebagai kebutuhan, agar tidak terasa seperti beban. Banyak baca dan tanggap jika ada ide yang seliweran. Karena, ide cemerlang kadang datang tidak diterka, dan kita harus selalu siap menangkapnya.

Thanks banget udah dikasih kesempatan ngobrol-ngobrol sama Kak Ratih, Kak Marisa dan Kak Kiki. Sukses terus untuk menulisnya, ditunggu karya berikutnya! Aku akan beli! Hahaha

Ratih: Tengkyu ya, Ail. Semangat menulis!

Kiki: Aamiin. Kembali kasih, Ail!
--
Seru, kan? Bilang, Iya! haha. Oke, ini udah #TalkWith ke 4. Gue ngerasa, ini masih gini-gini aja. Gue butuh kritik dan saran dari kalian semua, agar di #TalkWith selanjutnya ada kemajuan. Kritik dan saran bisa dikirim ke  ailsafthr@gmail.com . Kritik dan saran dari kalian, sangat gue tunggu!


Copyright © 2014 Ailsaafh's Blog