Sabtu, 05 Juli 2014

Main ke Kinomedia Writer Academy!



Hari ini gue mau main ke basecampnya Kinomedia Writer Academy, seharusnya sih minggu lalu tapi baru terlaksana hari ini. Beberapa hari yang lalu, gue ngontak lagi adminnya Kino via facebook. Ternyata bisa, dan janjian habis Jumatan. Gue kesini karena dapat tugas dari guru di sekolah menulis. Sekitar pukul 11 siang, gue berangkat. Karena nggak tahu jalan, gue berangkat bareng keluarga, biasalah sekalian jalan-jalan.

Gue sampai di daerah Jl.Lenteng Agung itu sekitar jam 12.30. Karena janjian habis Jumatan, akhirnya berhenti dulu di pom bensin sekalian shalat Dzuhur. pas kira-kira udah jamnya orang Jumatan selesai, kita jalan lagi. Mobil melaju pelan, mencari gang yang bernama gang empang. Nggak lama, terlihat satu gang dengan tulisan yang dicari. Jalannya sempit banget, akhirnya mobil nunggu di depan gang. Gue jalan ke dalam gang sendiri, celingukan nyari tempatnya. Dalam gangnya lumayan lega, tau gitu tadi mobil sampai bawah aja. Tempatnya sepi banget, asik buat nulis.

5 menit gue keliling-keliling di gang itu, tapi nggak nemu tempatnya. Gue sempat nyasar kerumah orang, ngahaha. Lagi asik-asiknya celingungkan, tiba-tiba gue ngeliat cowok pakai kupluk abu lagi jalan sambil celingukan.

"Mau ke kino, ya?"

Dari jauh gue angguk-angguk, sambil jalan gue mikir lagi. Perasaan tadi adminya bilang kalau tempatnya itu tepat di sebelah kiri, kenapa belok kanan? Ternyata sodara-sodara... belok kanan dulu, baru kiri, asdfghjklzz--"

Setelah jalan sedikit, gue sampai di sebuah rumah kecil. Pas masuk kedalam, wuih, novel-novel tertata rapi dirak, berasa lagi di toko buku. Gue disitu nggak terlalu lama, cuma sekitar 30menitan. Ngobrolin tentang Kinomedia dan beberapa penerbit. Kinomedia itu agensi naskah, jadi kalau mengirim naskah kesini, nanti tim Kino yang ngirim ke penerbit-penerbit seperti Zettu, Rumah Oranye dan masih banyak lagi. Katanya, disini cuma nerima naskah novel. Setiap bulannya Kino menerima kurang lebih, 100 naskah. Disini juga ada kelas menulisnya, cuma sekarang lagi berhenti dulu -kalau nggak salah-. Ada beberapa novel dari kino yang diangkat menjadi film, sekarang juga ada beberapa yang lagi proses syuting.

Sebelum pulang, Kak Novanka nawarin novel gratis. Azek, dapat bacaaan baru. Gue dapat satu novel karya Ade Kurniawan, udah lama pengen beli novelnya dia. Tapi belum sempat, karena pas kesana, bukunya belum ada. Pas udah ada, isi dompet yang nggak ada.

Tugas selesai! Fyuh.

Gue bareng Kak Hengki

Gue bareng Kak Novanka

Minggu, 15 Juni 2014

Ini Untukmu, Abi...

Kota Wisata, 2005.

Dear, Abi.. Happy Fathers Day, ya! Ini memang bukan hari Abi yang sesungguhnya, tapi, semua orang merayakannya, masa kakak nggak? hehe

Bi, setiap anak pasti seneng banget kalau ngenalin Papanya ke teman-temannya, dan pasti, di depan teman-temannya mereka membanggakan sosok seorang Papa, tidak peduli seperti apa pekerjaannya, dsb. Begitupun dengan kakak. Kakak bangga punya Abi seperti ini, Abi bangga nggak punya anak kayak kakak? Ah, pasti nggak. Belum ada yang bisa di banggakan dari kakak, iya kan, Bi? Masih suka ngebantah, nyaut, dan masih suka bikin Abi dan Umi marah-marah, maaf ya.

Kadang, kakak suka kesel sama Abi yang masih sering ngelarang kakak buat pergi sendirian. Bahkan, kalau pergi aja, pasti Abi selalu nyuruh buat Acay atau Akal nemenin. Ya, kakak tahu alasannya apa, dan,  seharusnya juga kakak nggak perlu lagi nangis-nangis minta izin pergi, ngebantah, nyaut, dsb. Maaf, sekali lagi, maaf.

Kakak masih inget, dulu Abi bikinin perpustakaan kecil, dan perpustkaan itu dimakan ‘Perpustkaan Ailsa’, kakak seneng banget! Nggak akan pernah lupa.

Abi juga terkadang jadi tempat berlindung ketika Umi ngasih target hafalan qur’an yang menurut kita, susah banget. Umi nargetin 1 halaman per-hari, kalau Abi, biasanya ngasih toleransi ‘Minimal setengah halaman per-hari’. Tapi, ya, kalau udah kesel targetnya nggak kesampaian, toleransi itu juga nggak berlaku lagi, iya kan, Bi?

Abi itu keren, anak IT, photographer, bisa dibilang, cowok idaman banget! Hahaha. Iya, kalau punya Abi orang IT itu, anaknya nggak bakalan gaptek, dijamin deh, hahaha. Beneran deh, Bi. Cowok yang suka duduk di depan notebook/computer dan suka nenteng-nenteng kamera, itu keren!

Abi itu kuat. Iya, Abi pasti masih inget, dulu, waktu rumah kita masih di pegunungan, Abi kuat bolak balik buat ngantor ke Jakarta. Dan terkadang, rela bawa anaknya gantian untuk ikut turun gunung. Dulu belum pakai mobil, masih pakai motor. Jalanannya pun nggak lurus-lurus aja, naik turun ditambah dengan bebatuan yang sangat licin jika hujan.

Abi itu segalanya. Abi mau melakukan apapun untuk anaknya, asalkan, anaknya bisa sukses. Abi dari dulu udah membuka jalan untuk Kakak menjadi seorang penulis, Abi juga sudah memasukanku ke sekolah menulis sebanyak 2x. Abi juga akan memasukan Akal ke sekolah animasi. Sekarang, tinggal kita yang berusaha untuk bisa membalas apa yang udah Abi keluarkan selama ini, walaupun, kakak yakin, semuanya nggak akan pernah bisa terbalaskan, se sukses apapun nantinya.

Apalagi, ya? Ah, nggak kuat nulisnya, haha. Intinya, Kakak sayang banget sama Abi. Sayaaaaaaaang banget. Untuk yang kesekian kalinya, maafkan kakak belum bisa jadi anak yang bisa membanggakan. Belum bisa memberi contoh yang baik buat adik-adik. Dan, masih contoh buruk yang kakak berikan. Maaf. Di usia yang ke 16 tahun ini, kakak masih begini-begini aja. Kakak janji akan merubahnya. Kakak juga nggak mau selamanya begini, kakak mau buat Abi dan Umi bangga. Dan, biar Abi bisa membuktikan, ‘Ini loh, anak yang tidak sekolah bisa sukses’.

Semua yang sudah Abi lakukan untuk kakak selama ini, nggak akan sia-sia. Kakak akan membuktikannya, janji! Kakak janji!

Salam,

Kakak

Kuda-kudaan. Rumah, 2005.
Pangandaran, 2014.


Pangandaran, 2014.
Mekarsari, 2007.


Ragunan, 2007.






Puncak, 2005.






Sabtu, 14 Juni 2014

#TalkWith Bambang Trim

Selamat Siang! Tau dong, hari ini waktunya apa? Yap! #TalkWith doooong! Yeay! Hari ini blog gue kedatangan seorang penulis yang sudah bergulat di dunia kepenulisan sejak tahun 1995 – sekarang. Berati sudah 18 tahun! Wow!

Kalian tahu nggak, kalau menulis itu nggak hanya, nulis-nerbitin dan udah gitu aja. Sebernarnya, menulis bisa dijadikan bisnis. Hari gini apa sih yang ngga bisa jadi uang? Numpang pipis aja bayar.
Beberapa waktu yang lalu, gue baru dapat buku ‘Writerpreneur’ dari Pak Dodi, guru di sekolah menulis. Gue suka isi bukunya, maka dari itu, di #TalkWith kali ini gue mengundang penulis buku itu, Bambang Trim! Oke deh, langsung aja simak hasil ngobrol-ngobrol bareng Om Bambang via Whatsapp beberapa hari yang lalu.


Writerpreneur by Bambang Trim

Bambang Trim
 ---

Halo, Om Bambang, terimakasih ya, sudah bersedia meramaikan blogku :D Kebanyakan orang, tahu kalau menulis, ya, cuma nulis, nerbitin dan selesai. Writerpreneur itu apa sih?

Writerpreneur itu orang yang menjadikan tulisan sebagai produk bisnis, termasuk menjual jasa penulisan. Mengapa? Karena tidak ada satu pun di dunia ini, yang bisa luput dari tulis-menulis.

Di buku ‘Writerpreneur’ ada yang namanya Ghostwriter dan Co-writer, bisa dijelasin sedikit nggak, apa itu Ghost dan co writer?

Ghostwriter itu membantu orang yang punya ide untuk menuliskannya. Cuma, ghostwriter itu biasanya untuk karya non-fiksi dan faksi (biografi/autobiografi)..

Co-writer itu penulis pendamping. Sama dengan ghostwriter, hanya saja nama penulisnya tidak dimuat. Kalau ghostwriter sesuai kesepakatan, namanya tidak dimuat.

Om, ide ada disekitar kita, tapi, terkadang suka susah untuk mengembangkannya. Gimana caranya biar ide itu bisa berkembang dan ngga mentok?

Cara mengembangkan bisa dengan mendaftar hal-hal yang disukai dan hal-hal yang tidak disukai. Lalu, sebutkan, kenapa kamu menyukainya atau, kenapa kamu tidak menyukainya. Ini salah satunya.
Intinya, harus sering latihan. Tuliskan apa yang terpikirkan pertama kali.

Menurut Om Bambang, menulis itu ibaratkan apa sih?                                                                             

Menulis itu bukan bakat, karena dapat dilatihkan. Menulis akan sangat membantu hidup seseorang, terutama dalam pekerjaannya. Orang bisa nulis, akan selalu dicari.

Melihat dunia kepenulisan yang dulu dan sekarang, banyak kemajuan nggak?

Jelas banyak kemajuan, karena orang lebih mudah untuk menulis dan teknologi semakin canggih.

Penulis favorit Om Bambang siapa? Kenapa?

Salah satunya, Om Wendo alias Arswendo Atmowiloto. Karena, Om Wendo itu penulis serba bisa.

Dulu, diawal-awal menulis, nerbitin buku apa?

Om nulis di media dulu, seperti artikel. Terus, nulis buku pelajaran SMP dan SMA bahasa Indonesia. Tahun 1994, satu buku dapat 1,5 juta, seneng banget. Buahnya, tahun 1998, buku Om bisa lolos penilaian bamk dunia dan bukunya dibeli proyek pemerintahan. Om dapat 50 jutaan.

Rata-rata, buku yang pernah Om tulis jenis apa? Dan, sampai sekarang sudah ada judul buku yang pernah ditulis?

Semua sudah, nonfiksi, faksi dan fiksi, terutama cerita anak. Sekarang sudah nulis lebih 150 judul buku.

Om kan juga editor nih, rata-rata, editor suka sama penulis baru yang seperti apa sih? Mulai dari cara ngasih naskah, presentasi naskah, dsb.

Penulis baru yang rendah hati dan menyodorkan naskah dengan ide segar. Naskah diserahkan dengan softcopy dan presentasi yang singkat. Om udah kasih contohnya dibuku The Art of Stimulating Idea.

Sekarang, sedang menyiapkan naskah apa, Om?

Lagi nulis naskah 101 Solusi Editing dan beberapa naskah pesanan.

Kedepannya, apa harapan Om untuk dunia kepenulisan?

Harapannya, buat sekolah penulisan yang mapan dan membentuk asosiasi penulis Indonesia.

Tips sukses jadi seorang writerpreneur itu apa sih, Om?
Sukses jadi writerpreneur jalannya, mengusai menulis, mengedit, desain dan bisnis. Buka blog Om yang ini ya, http://manistebu.wordpress.com.
Terakhir nih, Om. Kasih pesan singkat dong, buat mereka yang baca ini, siapa tahu, baru ada yang memulai menulis.

Menulis bisa membuat kamu lebih hebat, siapapun kamu, kami bisa berlatih dan dilatih.

Wah, makasih ya, Om. Sudah mau mampir disini dan berbagi cerita, sukses terus. Ditunggu buku selanjutnya, ya!
---
#TalkWith kali ini sedikit, ya? Maafkan aku:( Kali ini gue kurang maksimal membuat postingan ini, maaf mengecewakan kalian:( Minggu depan, nggak akan se-sedikit ini lagi deh!
Kalau masih ada yang penasaran dan belum puas dengan #TalkWith kali ini, kalian bisa mengunjungi blognya Om Bambang http://manistebu.wordpress.com disana banyak postingan tentang menulis dan penerbitan.
Kalau ada yang mau memberikan, kritik dan saran, bisa langsung komentar disini atau email ke ailsafthr@gmail.com sangat di tunggu kritik dan saran dari kalian semua :))

Sabtu, 31 Mei 2014

#TalkWith GWP Badut Oyen


Selamat Malam! Akhirnyaaaa... setelah berusaha enusekitar 2 jam untuk mendapatkan sinyal, bisa posting! Yeay! Gue udah berpikir bahwa , malam ini bakalan telat update, ternyata nggak, fyuh. Tahu dong sekarang saatnya posting apa? #TalkWith! Kali ini kita kedatangan penulis-penulis yang baru saja melahirkan karya tebarunya.


Penulis-penulis? Berati nggak Cuma 1 dong?

Yap! Tepat sekali. Mereka adalah, kak Ratih, kak Kiky dan kak Marisa.  Dan, mereka baru mengeluarkan novel dengan judul Badut Oyen. Jadi, satu novel dikerjakan 3 orang. Kebayang nggak sih nulis novel estafet? Kalau yang ada dipikiran gue, ‘Gimana caranya?’. Ya, secara kan setiap orang gaya nulis itu berbeda, apa bisa disatukan? Oh iya, mereka bertiga ini dari Gramedia Writing Project, tahu kan? Yang suka nulis dan ikutan lomba, pasti tahu.
Novel ini bercerita tentang seorang badut bernama Oyen yang tewas gantung diri lengkap dengan kostum badutnya. Tidak ada yang menyangka bahwa Oyen akan melakukan hal tersebut. Beberapa hari setelah kematian Oyen, ada hal aneh terjadi di kampung, mulai dari penampakan hantu badut, dan ditemukannya warga tewas dalam kondisi yang tidak wajar. Warga menyimpulkan, bahwa Oyen meminta tumbal.

Lalu, ada apa dengan Oyen? Bagaimana ia bisa tewas dengan cara seperti itu? Apa Oyen bunuh diri? Atau, ada yang sengaja membunuh Oyen? Tapi, siapa?

Penasaran? Beli gih bukunya, terus baca sampai selesai, biar nggak penasaran, hahaha :p




Covernya lucu, badutnya bawa palu berdarah.
Gue juga baru beberapa hari yang lalu selesai baca novel ini, Gue speechless pas selesai baca novel ini, wow banget. Cuma bisa bilang 'Gila, ternyata akhirnya begini.'.Novel ini keren banget! Alur cerita, gaya nulis dsb. Endingnya nggak gampang ditebak. Pokoknya, kalian harus baca!
Oke, mau tahu keseruan gue ngobrol bareng penulis-penulis Badut Oyen? Mari dilanjut!
 
 


Dwi Ratih Ramadhany
 
Rizky Novianti


Marisa Jaya
---
Halo semuanya! Sebelumnya, makasih ya, sudah mau aku ajak ngobrol disini, hehe. Karena aku suka banget sama Badut Oyen, mau tanya-tanya sedikit nih tentang novel ini. Kok bisa sih nulis 1 novel barengan?

Kiky: Dari ajang GWP, Gramedia Writing Project. Awalnya, gramedia bikin lomba nulis. Terus, dari sekian banyak tulisan yag masuk Cuma 20 finalis yang beruntung. Dan, bis aikutan workshop yang diadakan gramedia dan Mbak Clara Ng.
Nah setelah kepilih 20 peserta, kita disaring lagi. Kita dibagi beberapa grup dan disuruh nulis estafet. Tiap grup dapat secarik kertas kecil, dengan isi penggalan cerita dan kita disuruh mengembangkan cerita tersebut.

Setiap grup ada 3 orang, kebetulan Aku, Marisa dan Ratih se-grup. Tujuan latihan itu supaya kita bisa nyamain ide, pikiran dan gaya nulis.

Badut Oyen sendiri murni ide Mbak Clara.


Saat aku baca Badut Oyen itu, nggak kerasa kalau novel ini ditulis 3 orang. Itu gimana caranya?

Marisa: Kalau soal Badut Oyen yang nggak kerasa 3 orang, thanks banget Kak Asty editor kita yang rela begadang demi maksimalnya Badut Oyen.

Ratih: Nyamain tulisan? Awalya nggak sama, tapi, lama kelamaan setelah halaman demi halaman terlewati, akhirnya bisa saing menyesuaikan. Yeaaay, Kak Asty idolaaa. Editor super sabar!
Selama nulis Badut Oyen ini ada kendalanya nggak?

Marisa: Kendala, kalau dia aku. Ya itu, nyatuin gaya nulis yang beda. Terus, waktu. Kita juga harus konsisten nulis setiap harinya. Jadi, kadang waktunya keteteran karena kuliah, dsb.


Ratih: Aku Idem sama Marisa. Kalo aku, selain itu, mungkin membiasakan diri nulis novel. Karena, nafas novel lebih panjang daripada cerpan.

Kiky: Kendala di aku, jaringan internet. Karena kita diskusi via WA. Selebihnya, sama kayak Marisa.

Marisa: Pokoknya diantara kita bertiga yang paling disiplin soal nulis, Mbak Kiki, hehe.
 
Kiky: Ah, masa sih..

Ratih: Iya tuh, yang paling on time kak Kiki.
 

Temanku, Fathiya. Dia suka juga sama novel ini. Dia bilang, novelnya seru! Dia juga nitip pertanyaan, Badut Oyen ini karya keberapa?

Marisa: Kalau aku, ini novel perdana, hehe. Sebelumnya suka nulis fanfiction atau disimpan aja di dalam laptop.

Ratih: Kalau aku, ini novel pertama. Biasanya aku suka nulis cerpen.

Cerpen sudah pernah ada yang dibukukan atau udah sering majang di majalah-majalah?

Ratih: Cerpenku Cuma masuk di beberapa antologi aja sih. Yang dimuat dikoran juga Cuma 1.

Kiky: Aku ada beberapa antologi cerpen dan puisi. Yang dikoran Cuma puisi-puisi, cerpen belum pernah.


Wow. Kakak-kakak disini sudah berapa lama terjun ke dunia kepenulisan?

Ratih: Aku nulis baru 2012 akhir

Marisa: Kalo suka nulis dari pertama bisa nyusun kalimat yang padu, udah suka buat cerita.

Kiky: Aku sudah lama. Tapi, baru benar-benar nekunin sejak SMA
 
Sekarang lagi nyiapin naskah baru nggak nih?

Marisa: Aku sih… hahaha. Ratih dan Mbak Kiki tuh, pasti lagi nyiapin naskah #bocoran

Ratih: Marisa jugaaa… Kami lagi menyiapkan naskah solo, doakan ya!

Kiky: Marisa tuh #bocorin balik

Hasik deh! Ditunggu karya terbarunya Kak Marisa, Kak Kiki dan Kak Ratih! Aku juga lagi nyiapin naskah perdana nih, doain juga ya! Hihihi

Ratih: Yeaaay! Semangat nulis ya, Ailsa!
Marisa: Mantaaap! Wah Ailsa, genre apa?

Kiky: Mantap.. cemungud!! Hahaha

Ailsa: Genre teenlit. Tapi, bukan teenlit yang menye-menye gitu. Pokoknya, beda deh dari yang lain, huahaha. *loh kok, jadi ngomongin aku ya haha*

Menurut kakak-kakak disini, menulis itu ibaratkan apa sih?

Kiky: Menulis itu ibarat bicara. Kalau nggak ngomong seharian, gimana rasanya? :p

Ratih: Bagiku, menulis ibarat memahat kayu. Butuh ketekunan.

Marisa: Menurut gue, nulis itu ibaratkan, lompat ke dimensi yang beda. Dunia yang diciptakan sendiri.

Kalau lagi stuck atau writers block biasanya ngapain? Punya sesuatu yang unikkah?

Kiky: Nggak unik sih, biasa aja. Menggambar, dengerin music, nonton. Yang paling sering sih, menilik kebelakang, kayak ngumpulin denda gitu, supaya emosi dan semangatnya kembali dapat.

Siapa sih penulis yang menginspirasi kakak-kakak disini?

Marisa: Alberthine Endah, Agnes Jessica, Esti Kinasih dan Linda Howard

Ratih: Intan Paramadhita, Ayu Utami, Seno Gumira Ajidarma dan Eka Kurniawan.

Kiky: Wiwien Winarto

Disini kalian lebih banyak nulis cerpen, gimana sih caranya nulis cerpen biar nggak bertele-tele dan pendek tapi greget

Ratih: Biar nggak bertele-tele, bisa mengunakan deskripsi tokoh, deskripsi suasana, atau deskripsi gerak sesuai kebutuhan. Biasanya, seperlunya aja biar seimbang dan nggak numpuk satu paragraph.

Pernah nggak sih di tolak naskahnya sama penerbit?

Ratih: Aku belum pernah ngirim ke penerbit. Kalau ditolah majalah/koran, pernah beberapa kali.

Terakhir nih, kasih pesan-pesan dong buat mereka yang habis baca ini. Biasanya, kata-kata dari penulis yang sudah menghasilkan buku, suka jadi motivasi buat kita-kita yang belum menerbitkan buku.

Kiky: Nulis itu nggak boleh nunggu mood. Dijadiin kayak kewajiban aja. Misalnya, setiap hari harus ngirim 7 halaman. Ya, tiap hari harus nyetor ga boleh nggak, apapun alasannya 
Masalah penerbit, setelah tulisan kita kelar, baru kita bisa cocokin ke penerbit mana.

Ratih: Jadikan menulis itu sebagai kebutuhan, agar tidak terasa seperti beban. Banyak baca dan tanggap jika ada ide yang seliweran. Karena, ide cemerlang kadang datang tidak diterka, dan kita harus selalu siap menangkapnya.

Thanks banget udah dikasih kesempatan ngobrol-ngobrol sama Kak Ratih, Kak Marisa dan Kak Kiki. Sukses terus untuk menulisnya, ditunggu karya berikutnya! Aku akan beli! Hahaha

Ratih: Tengkyu ya, Ail. Semangat menulis!

Kiki: Aamiin. Kembali kasih, Ail!
--
Seru, kan? Bilang, Iya! haha. Oke, ini udah #TalkWith ke 4. Gue ngerasa, ini masih gini-gini aja. Gue butuh kritik dan saran dari kalian semua, agar di #TalkWith selanjutnya ada kemajuan. Kritik dan saran bisa dikirim ke  ailsafthr@gmail.com . Kritik dan saran dari kalian, sangat gue tunggu!


Senin, 26 Mei 2014

Tugas Akhir Sukses!

24.05.2014

Hari ini H-1 menuju pelaksanaan tugas akhir di kelas fiksi. H-1 ini dipakai buat latihan, khususnya buat kak Jamilah dan Fathiya yang akan menjadi moderator esok hari. Yang pertama maju buat latihan, gue sama kak Jamilah. Disitu saat kak Jamilah latihan jadi moderator, entah dia mau muji beneran atau mau muji boong-boongan, dia bilang kalau buku yang gue buat menarik. Padahal aslinya? Jauh dari kata menarik, dsb.

“Ya, buku yang sangat menarik, bukan?”

Gue langsung nyeletuk, “Hah? Apanya yang menarik?”  

Seketika semua yang ada disitu tertawa lepas, kelas pecah! Gue berasa jadi stand up comedian yang berhasil bikin punchline. Tuh kan, gue jadi pengen ketawa lagi, HUAHAHAHAHA XD. Setelah gue, abis itu Fathiya dan Pak Ari. Mereka berdua lancar-lancar aja.
Hari ini juga gue jadi bingung sendiri, kenapa? Oke, jadi ceritanya tadi ditanyain, "Nanti yang bedah bukunya siapa?" Hah? Maksudnya?

Jadi, ternyata, kalau mau membedah buku itu memang ada satu orang yang khusus membadah bukunya. Ngerti nggak? Jadi, moderator sama pembedah itu beda. Oh tidak, gue tidak menyiapkan itu. dan, gue pun baru ngeh hari ini. Haish.

Lalu? Apa yang akan terjadi besok kalau tidak ada pembedahnya? Sedangkan kita udah bagi-bagi poster dengan judul bedah buku! Bagaimana jika besok ada audience yang bertanya "Ini pembedahnya mana?" atau "Kok begini? Katanya bedah buku!". Oh tidaaaaaaaak!! Sore itu, selama kelas berlangsung, gue nggak fokus. Terus kepikiran buat besok harus gimana, duh..

25.05.2014

Malam tadi gue nggak bisa tidur. Hanya tidur sebentar-sebentar, dan parahnya, di tidur yang sebentar-sebentar itu, gue sampai bermimpi bahwa hari ini gue telat datang dan acaranya gagal total! Dan, beberapa kali bangun di tengah malam, pas kebangun langsung keingetan buat acara hari ini. *ini serius* Mimpi seperti itu lebih menakutkan, dibadingkan bermimpi bertemu dengan jin botol saus.
Pagi ini sebelum berangkat, gue membungkus terlebih dahulu bingkisan untuk penulis, pas udah selesai dua-duanya. Tiba-tiba gue keingetan "Tadi harganya udah dicopot belum, ya?" Zzzz, gue bongkar lagi. Ternyata, benar saja, harganya masih nempel cantik di barang itu.

Gue berangkat habis dzuhur, sedikit terjebak macet di Cibubur. Pukul 14.00 gue sampai di Kalibata City, muter-muter nyari toko buku Leksika. Baru aja sampai, ada whatsapp dari kak Windry, menanyakan lokasi. Pas lagi ngetik pesan, kak Windry keburu nelpon duluan. Ternyata kak Windry sudah di Leksika! Sesampainya di Leksika, gue langsung nyari kak Windry, dengan bermodal nekat, gue menyapa seorang wanita dengan baju biru muda lengkap dengan kerudung warna senada. Untung aja nggak salah orang, fyuh. Karena Fathiya yang mau jadi moderator, gue membiarkan Fathiya ngobrol-ngobrol sama kak Windry biar nanti nggak canggung pas acara dimulai.

Setelah selesai, gue kedepan, melihat toko buku yang sangat sepi. Disitu gue udah deg-degan nggak karuan, dalam hati

“Kok sepi? Siapa yang akan jadi audience?”

“Duh, ini gagal deh”

“Aaah, kok gini sih?”

“KENAPA SEPI BANGET!”

“INI TIM HORE GUE KEMANA!”

Yah, sepertinya ini kenyataan yang harus diterima. Bahwa hari ini sepi dan kemungkinan besar yang datang sedikit. Beberapa belas menit sebelum dimulai, terlihat ada 3 orang yang duduk! Gue girang banget. Yang tadinya kosong, akhirnya keisi. Detik-detik segmen pertama dimulai, kursi satu per satu terisi.

Fathiya langsung memulai ngobrol seru bareng kak Windry, dia nggak kelihatan gugup sama sekali. Gue nggak nyangka kalau Fathiya bakalan setenang ini. Pas udah beberapa belas menit dimulai, di meja ada yang tertinggal. Setelah dilihat-lihat, minum! Syial, lupa nyiapin minum! Akhirnya, Kak Ade yang beli minum.

Sore itu kak Windry menceritakan si novel terbarunya yang berjudul Interlude. 30 menit berlalu, sesi tanya jawabpun dimulai. Bayak yang mengangkat tangan, ingin mengajukan pertanyaan. Sayang sekali, gue lupa bawa recorder. Jadi, nggak ingat semuanya yang dibicarain sore itu.

Di tengah-tengah acaranya kak Windry, datang kak Chogah, uwow, bawa pasukan banyak banget. Beberapa kursi yang masih kosong terisi penuh. Itu artinya…. Sesuai target! Yes! 1 jam berlalu, Setelah selesai, kita langsung lanjut lagi ke segmen kedua. Tetapi, sebelumnya ada waktu buat audience yang mau minta ttd atau foto bareng sama Kak Windry. Sebelum segmen pertama benar-benar diakhiri, SMKI memperkenalkan diri.

Sementara itu, gue lagi ngobrol sama kak Jamilah. Dia lagi ngetest pertanyaan gitu ke gue. Dengan senang hati gue ngedengerin dia yang lagi ngomong sendiri. Berkali-kali dia salah nyebut nama, ‘Chogah’ jadi ‘Congah’.

“Kak Jamilah, Chogah. Bukan Congah. Jangan aja sampai salah nanti” Gue mengingatkan lagi tentunya sambil ngakak gara-gara ngeliat kak Jamilah salah terus, entah sudah yang keberapa kalinya gue ngebetulin kak Jamilah.

Lalu, kak Jamilah komat-kamit “Chogah, Chogah, Chogah.” Berusaha mengingat namanya.

Segmen kedua dimulai, pembukaan dari kak Jamilah keren, nggak kaku kayak yang pas latihan. Tapi… tunggu dulu, kuping gue mendengar sesuatu yang janggal. Congah? MUAHAHAHAHA. Setelah 2 kali salah sebut nama, semua tersadar dan… ketawa. Yang lebih parahnya lagi, kesalahan itu terus berulang beberapa kali selama acara ini berlangsung. HUAHAHAHA XD Kak Ade yang tadinya duduk di depan pindah, sambil bilang "Nggak kenal ah, nggak kenal"
Pembawaan kak Jamilah asik, nggak bikin bosen. Pencampuran kata-katanya juga membuat yang mendengar cengar-cengir­. Dan, terkesan lebih berbaur dengan audience. Disini juga kak Jamilah lebih banyak bertanya, menggantikan disaat tidak ada audience yang bertanya.
Satu jam berlalu begitu cepat, segmen ke 2 sekaligus yang terakhir selesai. Gue masih nggak yakin kalau ini udah selesai, ini cuma segini aja? Kok cepet banget ya :| Setelah sepi, kita ber-6 berkumpul dulu, evaluasi dan memberikan kesan-kesan. Lalu, bubar dan pulaaaang, fyuh, yang gue kira hari ini bakalan kacau balau, ternyata sukses banget.

---

Special thanks to Windry Ramadhina dan Setiawan Chogah yang bersedia hadir, dan membuat tugas kita sukses! Maaf, kalau selama acara kemarin kita masih kurang banyak dalam segala hal. Jangan kapok ya kalau kita undang lagi, hehe. Ditunggu buku selanjutnya, ya!
Tengkyu juga buat, Fathiya dan Kak Jamilah yang sudah bersedia jadi moderator *Kalian keren loh, pas latihan gugup. Pas lagi mulai beneran, kalian lancar banget, apalagi kak Jamilah, total banget euy. Uhuk!*- . Kak Ade yang juga bersedia menjadi MC dan membuat poster *posternya kecee*. Pak Ari yang sudah banyak membantu di bagian dana *Tengkyu, Pak! Hihi*. Tanpa kalian acara ini bukan apa-apa, kalian semua keren!
Dan, untuk Mas Senda Irawan sebagai guru di kelas fiksi SMKI, tengkyu udah ngasih tugas akhir yang berkesan dan nambah pengalaman buat kita semua. Tengs juga buat 2 bulan ini udah ngasih banyak pelajaran dan pe-er buat kita, hahaha. Diantara tugas yang lain, tugas akhir ini yang paling menantang, seru, mantap, kece! *walaupun di awal bikin gloomy, halah.-.Tapi, akhirnya seru banget! Pokonya mah tengs lah!* 

TUGAS KITA SUKSES! KALIAN KEREN!

---

Ini foto-foto seru kemarin hasil @ailsaafh dan yang dua terakhir dari @fathiyaainun


Windry Ramadhina


Setiawan Chogah






Windry Ramadhina dan Fathiya Zahira

Setiawan Chogah dan Siti Jamilah
Booksigning w/ kak Windry
Booksigning w/ kak Chogah


Pak Ari MC dari SMKI



Kak Ade MC dari SMKI

 
 
Kiri: Gue, Kak Jamilah, Mas Senda, Pak Ari, Kak Chogah, Kak Ade, dan Fathiya
by: Fathiya



Kiri: Mas Senda, Kak Jamilah, Kak Windry, Fathiya, Kak Ade, gue dan Pak Ari
by: Fathiya
 


Jumat, 23 Mei 2014

2 Minggu Otak Ngebul

 
*Ini bukan iklan, ini bagian dari postingan* Disini ada yang suka karyanya Windry Ramadhina? Atau, Setiawan Chogah? Mau bertemu mereka secara langsung? Hari Minggu, 25 Mei 2014 di toko buku Leksika Kalibata City, mereka akan hadir! Yeay! Keduanya akan membedah karya tebarunya, Windry dengan novel Interlude dan, Chogah dengan kumcer SMS Terakhir. Selama 2 jam penuh kita akan ngobrol seru dengan mereka. Yuk, kita ramaikan! FREE!

Windry Ramadhina: 15.00 – 16.00 WIB

Setiawan Chogah: 16.00 – 17.00 WIB

---

Bisa ngebayangin nggak, kalau kalian tiba-tiba aja disuruh membuat tim dan mengadakan acara bedah buku? Tapi, yang dibedah bukan buku sendiri, melainkan kalian harus mengundang penulis untuk membedah bukunya! Dan, yang lebih parahnya lagi, acaranya harus dilaksanakan 2 minggu lagi! Nggak masalah sih, kalau kantong lagi tebel. Lah ini, lagi tipis banget, udah kepake buat jalan sama beli buku bulan ini.

Sekarang udah H-1 nih, iya, H-1. Sekarang ceritanya udah 2 minggu berlalu, tinggal ngitung hari, bukan, lebih tepatnya tinggal ngitung jam. Sampai sekarang persiapan udah 80%. Tinggal beberapa yang belum diselesain dan itu membuat gue bingung, hingga akhirnya drama Heartsring menjadi pelampiasan kebingungan gue.

Kembali ke 2 minggu yang lalu…

Hari ini kita berlima bagi-bagi tugas, kita Cuma berlima, kita semua punya kesibukan masing-masing, dan kita nggak tinggal berdekatan. Tapi kita harus bekerja sama untuk mensukseskan tugas akhir di kelas fiksi. Ini sih bukan masalah yang besar, sekarang bukan zamannya pakai burung merpati kalau mau ngobrol.

Karena gue nggak bersedia buat jadi MC atau moderator, akhirnya, gue menutuskan untuk menjadi leader. Gue belum siap kalau harus beraksi umum, gue lebih milih beraksi dibalik layar, muahaha XD Awalnya, tugas gue Cuma nyari penulis dan nyari tempat. Tapi, ternyata nggak! Tiba-tiba satu-per-satu masalah muncul, mulai dari buku belum beredar di tobuk, stock buku sudah menipis, dsb. Bahkan dompet gue semakin hari, semakin menipis. Kenapa? Bayangin, udah 2 minggu ini gue ngabisin pulsa sekitar 35 ribu. Ini Cuma buat nelpon doang! 35 ribu itu bisa buat 2 bulan, tjoy. Iya, soalnya gue pake paket internet, pulsa buat nelpon lebih awet. Kalian tahu kan, nelpon dari hp ke telepon kantor itu kayak apa sadisnya? Rasanya itu nggak jauh beda kayak begini…
Sumber gambar google.com

Karna gue pernah beberapa kali ngobrol bareng penulis, yang pertama gue hubungin ya, mereka. Ah, ternyata jadwalnya pada penuh semua. Karena gue bingung nyari dimana, iseng-iseng buka twitternya Bentang Pustaka, Bukune dan Gagas Media. Kenapa gue pilih di 3 penerbit itu? Karena, menurut gue, buku-buku yang mereka terbitkan kualitasnya oke banget. Di awal pencarian penulis ini ada yang salah, kita nggak lihat dulu dimana mereka tinggal. Iya, ini terjadi. Jadi, ceritanya gue mau nawarin Iwok Abqary, tapi, gue nggak lihat tenryata dia tinggalnya di Tasik. Hilang satu. Lalu, Fathiya, dia ngehubungin Indah Hanaco, tapi, ternyata dia tinggalnya di Puncak. Gue mengubah cara, kali ini, yang dilihat duluan adalah lokasi.

Setelah masalah perbukuan dan penulis selesai, muncul satu masalah lagi, moderator. Iya, tadinya Kak Ade udah bersedia buat jadi moderator. Tapi, Fathiya dan Kak Jamilah mengajukan diri untuk menjadi moderator *ini boong, ini gue yang paksa*. Karena beberapa hal, Kak Ade nggak bisa buat jadi moderator, sisanya, ya, tinggal Fathiya dan Kak Jamilah. Mau nggak mau, mereka harus mau. Kak Jamilah nggak ribet, di tawarin langsung mau. Fathiya? Adooh dia ngewatsapnya panjang banget tjoy. Banyak alesannya, grogi, dsb. Gue juga kalau ada di posisi dia, pasti bakalan begitu sih, haha. Karena sudah lelah, akhirnya gue ngejudesin Fathiya *Maafkan aku Fathiyaaa, nanti aku bagi drama Heartsring sama Personal Taste deh! Ada Minhonya loh, muahaha :p*

Sekarang, tinggal 2 masalah yang belum selesai. Konsumsi dan bingkisan, dan, ini sudah H-1. Sepertinya, hari ini akan jadi hari yang sangat melelahkan. Besok adalah puncaknya, dan tentunya, besok otak bakalan lebih ngebul dari sekarang. Dan, sebentar lagi, ini akan berakhir. Iya, BERAKHIR, HUAHAHAHAHA XD

Copyright © 2014 Ailsaafh's Blog